Senin, 26 September 2016

makalah campak


BAB I

PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Upaya bangsa Indonesia untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal diperlukan suatu tatanan. Hal ini sebagai perwujudan kesejahteraan umum dalam rangka mencapai tujuan di bidang kesehatan. Salah satu upaya mencapai tujuan kesehatan nasional adalah pengendalian penyakit campak melalui surveilans campak.
Sidang World Health Assembly (WHA) pada bulan Mei 2010 menyepakati target pencapaian pengendalian penyakit campak pada tahun 2015 yaitu :
-            Mencapai cakupan imunisasi campak dosis pertama > 90% secara nasional dan minimal 80% di seluruh kabupaten/kota.
-            Menurunkan angka insiden campak menjadi <5/1.000.000 setiap tahun dan mempertahankannya.
-             Menurunkan angka kematian campak minimal 95% dari perkiraan angka kematian 2000.
Hasil dari paparan World Health Organization (WHO) menyebutkan, pada periode Januari hingga Juli 2011, tercatat ada 26 ribu kasus campak di 40 negara di benua Eropa. Jumlah kasus yang berhasil terekam WHO itu, menunjukkan kasus campak di benua Eropa meningkat 276 % dibandingkan periode yang sama pada 2007 lalu.
Jumlah kasus campak tahun 2009 di Indonesia sebanyak 18.055 kasus (IR (Incident Rate): 0,77 per 10.000 penduduk). Sedangkan pada tahun 2010 sebanyak 17.139 kasus (IR: 0,73 per 10.000 penduduk) dengan target IR di Indonesia adalah 0 per 10.000 penduduk (Depkes RI: 2010).
Indonesia pada saat ini berada pada tahap reduksi dengan pengendalian dan pencegahan kejadian luar biasa (KLB). Tingkat penularan infeksi campak sangat tinggi sehingga sering menimbulkan KLB. Jumlah kasus campak menurun pada semua golongan umur di Indonesia terutama anak-anak di bawah lima tahun pada tahun 1999 s/d 2001, namun setelah itu insidence rate tetap, dengan kejadian pada kelompok umur < 1 tahun dan 1-4 tahun selalu tinggi daripada kelompok umur lainnya. Pada umumnya- KLB yang terjadi di beberapa provinsi menunjukkan kasus tertinggi selalu pada golongan umur 1-4 tahun (Depkes, 2006).
Hingga saat ini Indonesia belum bisa terlepas dari penyakit campak, data terakhir menunjukkan penyakit campak sebanyak 11.704 kasus pada tahun 2011 (Dirjen P2PL, 2012). Campak merupakan suatu infeksi penyakit akut yang menular ,disebabkan oleh paramixovirus dengan genus morbilivirus yang pada umumnya menyerang anak-anak (Julia andriani, 2009). Penyakit campak termasuk penyakit yang sering menyerang anak-anak, karena itu penyakit akibat virus ini sering disepelekan dan masyarakat kita masih berpikiran kalau anak kena campak adalah hal yang biasa dan wajar (Soedjatmiko, 2011).
Salah satu program pemerintah untuk memberantas ataupun menurunkan angka kasus campak yaitu melalui kegiatan surveilans epidemiologi yang bertujuan untuk memantau kemajuan kegiatan pemberantasan campak. Sehingga kasus campak yang ada di masyarakat dapat ditekan.

B.     Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah di dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.         Apa pengertian penyakit campak ?
2.         Bagaimanakah epidemiologi penyakit campak ?
3.         Apa saja gejala penyakit campak ?
4.         Bagaimana cara penularan penyakit campak ?
5.         Bagaimana langkah-langkah surveilans penyakit campak ?

C.    Tujuan Penulisan

Adapun yang menjadi tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Mengetahui pengertian dari penyakit campak.
2.      Mengetahui epidemiologi penyakit campak.
3.      Dapat memahami gejala-gejala penyakit campak.
4.      Mengetahui cara penularan penyakit campak.
5.      Mengetahui langkah-langkah surveilans penyakit campak






BAB II

PEMBAHASAN


A.    Penyakit Campak

1.      Pengertian Penyakit Campak
Penyakit campak dikenal juga sebagai Morbili atau Measles, merupakan penyakit yang sangat menular (infeksius) yang disebabkan oleh virus. Sembilan puluh persen anak yang tidak kebal akan terserang penyakit campak. Manusia diperkirakan satu-satunya reservoir, walaupun monyet dapat terinfeksi tetapi tidak berperan dalam penyebaran.
Campak merupakan penyakit serius yang mudah ditularkan melalui udara. Tingkat penularan infeksi campak sangat tinggi sehingga sering menimbulkan KLB (Kejadian Luar Biasa). Penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian imunisasi campak.
Penyakit ini biasanya akan sembuh dengan sendirinya dan diketahui bahwa seseorang hanya akan terkena penyakit ini sekali seumur hidup. Sesuai dengan sifat alami penyakit campak yang monotipik, yaitu hanya terdiri dari satu tipe saja, setelah pemberian imunisasi campak seharusnya seorang anak akan kebal seumur hidup. Namun ada beberapa kasus mengenai anak yang dinyatakan terkena penyakit campak oleh dokter, padahal orang tuanya telah melakukan imunisasi campak pada anak tersebut.

2.      Epidemiologi Penyakit Campak
Campak  adalah  penyakit  menular  yang dapat  menginfeksi anak-anak pada usia dibawah 15 bulan, anak usia sekolah atau remaja. Penyebaran penyakit campak berdasarkan umur berbeda dari satu daerah dengan daerah lain, tergantung dari kepadatan penduduknya, terisolasi atau tidaknya daerah tersebut. Pada daerah urban yang berpenduduk padat, transmisi virus  campak sangat tinggi.
Berdasarkan  tempat  penyebarannya,  penyakit  campak  berbeda, dimana daerah perkotaan siklus epidemi campak  terjadi  setiap 2-4 tahun  sekali, sedangkan di daerah pedesaan penyakit campak jarang  terjadi, tetapi  bila sewaktu-waktu terdapat penyakit campak maka serangan dapat  bersifat wabah dan  menyerang  kelompok umur yang rentan. Berdasarkan  profil  kesehatan tahun  2008  terdapat jumlah  kasus  campak  yaitu 3424 kasus  di Jawa barat, di Banten 1552 kasus, di Jawa tengah 1001 kasus.



3.      Daerah Risiko Tinggi
Daerah risiko tinggi campak yaitu daerah yang berpotensi terjadinya KLB campak, dilihat dari (Dirjen P2PL, 2008):
-          Daerah dengan cakupan imunisasi rendah (< 80%)
-          Lokasi yang padat dan kumuh antara lain pengungsian
-          Daerah rawan gizi
-          Daerah sulit dijangkau atau jauh dari pelayanan kesehatan
-          Daerah dimana budaya masyarakatnya tidak menerima imunisasi

4.      Etiologi Campak
Penyebab campak adalah Paramyxoviridae (RNA), jenis Morbillivirusyang mudah mati karena panas dan cahaya. Hanya satu tipe antigen yangdiketahui. Selama masa prodromal dan selama waktu singkat sesudah ruamtampak, virus ditemukan dalam sekresi nasofaring, darah dan urin. Virusdapat tetap aktif selama sekurang-kurangnya 34 jam dalam suhu kamar.Virus campak dapat diisolasi dalam biakan embrio manusia atau jaringanginjal kera rhesus.

5.      Cara dan Masa Penularan
1.      Penularan dari orang ke orang melalui percikan ludah dan transmisimelalui udara terutama melalui batuk, bersin atau sekresi hidung.
2.      Masa penularan 4 hari sebelum rash sampai 4 hari setelah timbul rash,puncak penularan pada saat gejala awal (fase prodromal), yaitu pada 1-3hari pertama sakit.

6.      Masa Inkubasi
Masa Inkubasi antara 7 – 18 hari. Rata-rata 10 hari.
Secara garis besar penyakit campak bisa dibagi menjadi 3 fase, yakni sebagi berikut :
-          Fase pertama disebut masa inkubasi yang berlangsung sekitar 10-12 hari. Pada fase ini, anak sudah mulai terkena infeksi tapi pada dirinya belum tampak gejala apa pun. Bercak-bercak merah yang merupakan ciri khas campak belum keluar.
-          Fase kedua (fase prodormal). Pada fase ini barulah timbul gejala yang mirip penyakit flu, seperti batuk, pilek, dan demam. Mata tampak kemerah-merahan dan berair. Bila melihat sesuatu, mata akan silau (photo phobia). Di sebelah dalam mulut muncul bintik-bintik putih yang akan bertahan 3-4 hari. Terkadang anak juga mengalami diare. Satu-dua hari kemudian timbul demam tinggi yang turun naik, berkisar 38-40,5 derajat Celcius.
-          Fase ketiga ditandai dengan keluarnya bercak merah seiring dengan demam tinggi yang terjadi. Namun, bercak tak langsung muncul di seluruh tubuh, melainkan bertahap dan merambat. Bermula dari belakang kuping, leher, dada, muka, tangan dan kaki. Warnanya pun khas; merah dengan ukuran yang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil. Bercak-bercak merah ini dalam bahasa kedokterannya disebut makulopapuler.

Biasanya bercak memenuhi seluruh tubuh dalam waktu sekitar satu minggu. Namun, ini pun tergantung padadaya tahan tubuh masing-masing anak. Bila daya tahan tubuhnya baik maka bercak merahnya tak terlalu menyebar dan tak terlalu penuh. Umumnya jika bercak merahnya sudah keluar, demam akan turun dengan sendirinya. Bercak merah pun makin lama menjadi kehitaman dan bersisik (hiperpigmentasi), lalu rontok atau sembuh dengan sendirinya. Periode ini merupakan masa penyembuhan yang butuh waktu sampai 2 minggu.

7.      Gejala Penyakit Campak
a.       Panas badan biasanya ≥ 38oC selama 3 hari atau lebih, disertai salah satu atau gejala batuk, pilek, mata merah atau mata berair
b.      Khas (pathognomonis) ditemukan Koplik’s spot atau bercak putih keabuan dengan dasar merah di pipi bagian dalam (mucosa bucal)
c.        Bercak kemerahan/rash yang dimulai dari belakang telinga pada tubuh berbentuk makulo popular selama 3 hari atau lebih, keseluruhan tubuh.
d.      Bercak kemerahan makulo papular setelah 1 minggu sampai 1 bulan berubah menjadi kehitaman (hiperpigmentasi) disertai kulit bersisik. Untuk kasus yang telah menunjukkan hiperpigmentasi (kehitaman) perlu dilakukan anamnesis dengan teliti, dan apabila pada masa akut (permulaan sakit) terdapat gejala-gejala tersebut di atas maka kasus tersebut termasuk kasus campak klinis.

8.      Cara Penularan Penyakit Campak
Sumber penularan adalah manusia sebagai penderita. Penularan dari orang ke orang melalui melalui percikan ludah dan transmisi melalui udara terutama melalui batuk, bersin atau sekresi hidung. Masa penularan 4 hari sebelum timbul rash, puncak penularan pada saat gejala awal (fase prodromal), yaitu pada 1-3 hari pertama sakit.

9.      Komplikasi
-          Sebagian besar penderita campak akan sembuh, komplikasi sering terjadi pada anak usia < 5 tahun dan penderita dewasa usia > 20 tahun. Kasus campak pada penderita malnutrisi dan defisiensi Vitamin A serta immune deficiency (HIV), komplikasi campak dapat menjadi lebih berat atau fatal. Komplikasi yang sering terjadi seperti diare, bronchopneumonia, malnutrisi, otitis media, kebutaan, enchephalitis, measles encephalitis hanya 1/1000 penderita, subacute sclerosing panencephalitis (SSPE), hanya 1/100.000 penderita campak, ulkus mucosa mulut.

10.  Penyebab kematian
Kematian penderita campak umumnya disebabkan karena komplikasinya, seperti : Bronchopneumonia, Diare berat dan gizi buruk serta penanganan yang terlambat.

11.  Diagnosis Banding
a.       Rubella (campak Jerman), terdapat pembesaran kelenjar getah bening di belakang telinga.
b.      DBD, bisa terjadi mimisan, torquet test (Rumple Leede) positif, perdarahan diikuti syok, laboratorium menunjukkan trombosit <100.000/ml dan serologis positif IgM DHF (spesimen akut dan spesimen penyembuhan)
c.       Cacar air (varicella), ditemukan vesikula atau gelembung berisi cairan
d.       Alergi obat, kemerahan di tubuh setelah minum obat/disuntik, disertai gatal-gatal
e.       Milaria atau keringat buntet : Gatal-gatal, bintik kemerahan.

12.  Patogenesis
Campak adalah penyakit infeksi sistemik yang dimulai infeksi pada bagian epitel saluran pernafasan di nasopharing. Virus campak dikeluarkan dari dari nasopharing mulai dari masa prodromal sampai 3-4 hari setelah rash.




13.  Imunitas
Infeksi alami karena penyakit campak cenderung menimbulkan antibodi lebih baik dibandingkan antibodi yang terbentuk karena vaksinasi campak. Setelah terjadi virus, maka terjadi respon seluler segera yang kemudian diikuti oleh respon imunitas pada saat timbulnya rash. Bila pada seorang anak tidak terdeteksi adanya titer antibodi campak, maka anak tersebut kemungkinan masih rentan. Penyembuhan terhadap penyakit campak tergantung kepada kemampuan respon dari T-cell yang adekuat.
Dengan adanya maternalantibody, biasanya anak-anak akan terlindung dari penyakit campak untuk beberapa bulan, biasanya antibody akan sangat berkurang setelah anak berumur 6-9 bulan, yang menyebabkan anak menjadi rentan terhadap penyakit campak. Suatu infeksi dengan kadar virus yang tinggi kadang kala dapat melampaui tingkat perlindungan dari maternal antibody sehingga anak dapat terserang penyakit campak pada umur 3-4 bulan.

14.  Pengobatan
Pengobatan terhadap campak sesuai dengan gejala yang muncul. Penderita tanpa komplikasi cukup diberikan antipiretik dan pemberian vitamin A dosis tinggi sesuai usia. Jika ada komplikasi anjurkan penderita dirawat di Puskesmas atau di Rumah Sakit, Pengobatan komplikasi di sarana pelayanan kesehatan dengan pemberian antibiotik tergantung berat ringannya komplikasi, bila keadaan penderita cukup berat segera rujuk ke rumah sakit. Kasus yang terkena penyakit campak, diisolasi, untuk memutuskan rantai penularan pada orang lain.
Pemberian Vitamin A:
Diberikan sebanyak 2 kapsul (kapsul pertama diberikan saat penderita ditemukan, kapsul kedua diberikan keesokan harinya, dosis sesuai umur penderita). Pemberian Vitamin A diutamakan untuk penderita campak, jika persediaan vitamin A mencukupi, sebaiknya juga diberikan pada yang tidak terkena kasus campak.
-          Umur 0 - 6 bulan, bagi bayi yang tidak mendapatkan ASI , diberikan vitamin A 1 kapsul 50.000 IU pada saat penderita ditemukan, dan kapsul ke dua diberikan keesokan harinya.
-          Umur 6 – 11 bulan, pada saat penderita ditemukan, diberikan vitamin A sebanyak 100.000 IU, dan kapsul kedua diberikan pada hari kedua.
-          Umur 12 – 59 bulan, saat penderita ditemukan, diberikan vitamin A sebanyak 1 kapsul 200.000 IU, dan kapsul kedua diberikan pada hari kedua.


B.     Surveilans Penyakit Campak

Surveilans kesehatan masyarakat adalah pengumpulan, analisis, dan analisis data secara terus-menerus dan sistematis yang kemudian didiseminasikan (disebarluaskan) kepada pihak-pihak yang bertanggungjawab dalam pencegahan penyakit dan masalah kesehatan lainnya (DCP2, 2008). Surveilans memantau terus-menerus kejadian dan kecenderungan penyakit, mendeteksi dan memprediksi outbreak pada populasi, mengamati faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit, seperti perubahan-perubahan biologis pada agen, vektor, dan reservoir. Selanjutnya surveilans menghubungkan informasi tersebut kepada pembuat keputusan agar dapat dilakukan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian penyakit (Last, 2001).
Peranan surveilans dalam program reduksi campak sangat penting, surveilans dapat menilai perkembangan program pemberantasan campak serta dapat membantu menentukan strategi pemberantasannya di setiap daerah, terutama untuk perencanaan, pengendalian dan evaluasi program pemberantasan campak di Indonesia.

WHO mencanangkan beberapa tahapan dalam upaya pemberantasan campak, dengan tekanan strategi yang berbeda-beda pada setiap tahap yaitu :
a.       Tahap Reduksi
Tahap ini dibagi dalam 2 tahap :
1)      Tahap pengendalian campak
Pada tahap ini ditandai dengan upaya peningkatan cakupan imunisasi campak rutin dan upaya imunisasi tambahan di daerah dengan morbiditas campak yang tinggi. Daerah -daerah ini masih merupakan daerah endemis campak, tetapi telah terjadi penurunan insiden dan kematian, dengan pola epidemiologi kasus campak menunjukkan 2 puncak setiap tahun.
2)      Tahap Pencegahan KLB
Cakupan imunisasi dapat dipertahankan tinggi >80% dan merata, terjadi penurunan tajam kasus dan kematian, insiden campak telah bergeser kepada umur yang lebih tua, dengan interval KLB antara 4-8 tahun.

b.      Tahap Eliminasi
Cakupan imunisasi sangat tinggi  >95% dan daerah -daerah dengan cakupan imunisasi rendah sudah sangat kecil jumlahnya. Kasus campak sudah jarang dan KLB hampir tidak pernah terjadi. Anak-anak yang dicurigai rentan (tidak terlindung) harus diselidiki dan diberikan imuniasi campak.

c.     Tahap Eradikasi
Cakupan imunisasi sangat tinggi dan merata, serta kasus campak sudah tidak ditemukan. Transmisi virus campak sudah dapat diputuskan, dan negara-negara di dunia sudah memasuki tahap eliminasi.

Pada Technical Consultative Groups (TCG) Meeting, di Dakka, Bangladesh tahun 1999, menetapkan bahwa reduksi campak di Indonesia berada pada tahap reduksi dengan pencegahan Kejadian Luar Biasa (KLB).

1.      Tujuan Surveilans Campak
Adapun tujuan surveilans campak adalah sebagai berikut :
a.       Mengetahui perubahan epidemiologi campak
b.      Mengidentifikasi populasi risiko tinggi
c.       Memprediksi dan mencegah terjadinya KLB campak
d.      Penyelidikan epidemiologi setiap KLB campak.

2.      Strategi Surveilans Campak
Strategi surveilans campak meliputi :
1)      Surveilans Rutin
Surveilans rutin merupakan Pengamatan Epidemiologi kasus campak yang telah dilakukan secara rutin selama ini berdasarkan sumber data rutin yang telah ada serta sumber data lain yang mungkin dapat dijangkau pengumpulannnya.
2)      SKD dan Respon KLB Campak
Pelaksanaan SKD dan Respon KLB campak dilakukan setelah diketahui atau adanya laporan 1 kasus pada suatu daerah serta pada daerah yang memiliki polulas rentan lebih 5%.
3)      Penyelidikan dan Penanggulangan Setiap KLB Campak
Setiap KLB harus diselidiki dan dilakukan penanggulangan secepatnya yang meliputi pengobatan simtomatis pada kasus, pengobatan dengan antibiotika bila terjadi komplikasi, pemberian vitamin A dosis tinggi, perbaikan gizi dan meningkatkan cakupan imunisasi campak/ring vaksinasi (program cepat,sweeping) pada desa-desa risiko tinggi.

4)      Pemeriksaan Laboratorium pada Kondisi Tertentu
Pada tahap reduksi campak dengan pencegahan KLB : pemeriksaan laboratorium dilakukan terhadap 10  -15 kasus baru pada setiap KLB.
Pada tahap eliminasi/eradikasi, setiap kasus campak dilakukan pemeriksaan   laboratorium.

5)      Studi Epidemiologi
Melakukan survei cepat, penelitian operasional atau operational research (OR) sebagai tindak lanjut hasil analisis surveilans untuk melengkapi data/informasi surveilans yang diperlukan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam  perbaikan program (corrective action).

3.      Pelaksanan Surveilans Campak
Kegiatan surveilans campak dalam program eradikasi campak adalah sebagai berikut:
a.       Surveilans Rutin
Surveilans rutin dilaksanakan terutama oleh surveilans puskesmas serta surveilans kabupaten/kota.

Kegiatan surveilans rutin yang digunakan dalam sistem surveilans epidemiologi nasional adalah sebagai berikut (Dirjen P2PL, 2008) :
1)      Tingkat Puskesmas :
a)      Pengumpulan data
Sumber data surveilans rutin di puskesmas adalah :
-          Puskesmas dan puskesmas pembantu
Semua kasus yang datang ke puskesmas maupun puskesmas pembantu dinyatakan pada keluarga penderita apakah ada kasus yang sama disekitar tempat tinggal atau teman sekolah penderita. Apabila keuarga penderita menyatakan ada kasus lain, maka petugas kesehatan harus melakukan pengecekan ke lapangan untuk mencari kasus tambahan lainnya. Jika jumlah kasus memenuhi kriteria KLB, maka dilakukan penyelidikan Epidemiologi KLB campak.

-          Praktek dokter, bidan, perawat, dan pelayanan kesehatan swasta lainnya
Pelayanan kesehatan swsta trmasuk dokter, bidan perawat praktek swasta diminta mencatat ke formulir C1 semua kasus tersangka campak dan melaporkan ke puskesmas di wilayah kerjanya setiap bulan. Laporan dapat juga dilakukan secara aktif yaitu petugas puskesmas mengambil secara aktif setiap minggu atau minimal setiap bulan, terutama di daerah perkotaan. Pelayanan kesehatan swasta diprioritaskan pada pelayanan yang anyak pasien.
-          Masyarakat/posyandu maupun petugas desa siaga
Penderita campak pada umumnya jarang mencari pengobatan ke pelayanan kesehatan, sehingga tidak tercatat dalam sistem pelaporan yang sudah ada. Oleh sebab itu perlu peran aktif kader/petugas desa siaga untuk mendorong masyarakat melaporkan ke petugas kesehatan terdekat apabila menemukan adanya kasus campak di daerahnya. Kasus campak yang tidak datang ke pelayanan kesehatan terdekat dapat dilaporkan melalui kader/petugas desa siaga atau petugas kesehatan terdekat. Kasus campak yang dilaporkan oleh kader/petugas desa siaga harus dikonfirmasi oleh petugas puskesmas sebelum dicatat kedalam form C-1. Apabila ditemukan kasus tambahan dicatat dalam C-1, jika jumlah kasus memenui kriteria KLB, maka dilakukan penyelidikan epidemiologi KLB.

b)      Pencatatan dan Pelaporan
-          Petugas surveilans puskesmas harus memastikan bahwa setiap kasus campak yang ditemukan, baik yang berasal dari dalam maupun luar wilayah kerja, telah dicatat dalam form C1 dan dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/kota setiap bulan.
-          Setiap minggu direkap dalam W2/PWS KLB dan dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/kota sebagai alat SKD KLB.
-          Setiap kasus campak yang datang ke puskesmas diberi nomor Epid oleh petugas puskesmas




c)     Pengambilan spesimen
·         Puskesmas :
-          Kasus campak yang datang di puskesmas diambil sampel darah untuk mendapatkan serum
-          Serum dikirim langsung atau setiap hari senin atau kamis ke Kabupaten/Propinsi
-          Bila tidak dikirim langsung, spesimen disimpan di lemari es (bukan di freezer)

·           Praktek swasta :
Rujuk ke laboratorium rumah sakit atau laboratorium puskesmas untuk pengambilan  spesimen serum.

d)     Umpan balik
·       Sasaran            : Kepala Puskesmas dan seluruh pengelola program , petugas pustu.
·       Frekuensi         : setiap bulan
·       Caranya           : pertemuan MINILOK bulanan puskesmas
·       Isi                    :
-       PWS Imunisasi
-       Maping populasi rentan (area map)
-       Spot map kasus campak, KLB maupun rutin
-       Grafik kecenderungan kasus campak
-       Status imunisasi kasus dan distribusi kasus menurut umur
-       Permasalahan imunisasi dan surveilans secara umum (logistik, ketenagaan, dll)

2)      Tingkat Rumah Sakit :
a)      Penemuan kasus
Setiap hari kontak person di bangsal dan poliklinik anak memeriksa adanya kasus maupun kematian campak.
b)      Pencatatan dan pelaporan
Setiap kasus atau kematian campak dicatat dalam form C1 (individual). Apabila ada penderita campak, maka kontak person di poliklinik anak langsung mengisi formulir C1. Formulir C1 yang sudah terisi tersebut akan diambil oleh petugas surveilans aktif kabupaten/kota setiap minggu pada saat melaksanakan surveilans aktif AFP, campak dan TN.
c)      Kasus campak yang dilaporkan dari rumah sakit harus diberi nomor Epid sesuai dengan alamat puskesmas dimana penderita berdomisili.
d)     Pengambilan spesimen
-          Petugas rumah sakit mengambil spesimen darah, memisahkan serumnya dan memberikan label pada tabung spesimen. Pada label dicantumkan nama, umur, dan tanggal ambil.
-          Simpan spesimen serum ke dalam refrigator, setiap senin dan kamis diambil oleh petugas kabupaten/kota dan selanjutnya dikirim ke LCN langsung atau melalui propinsi.
-          Mencatat data kasus ke dalam buku khusus sebagai dokumen di laboratoriuj rumah sakit yang dapat dimanfaatkan sebagai kontrol data.

3)      Di Kabupaten/Kota
a)      Penemuan kasus
Setiap minggu petugas dinas kesehatan kabupaten/kota mengunjungi rumah sakit di wilayah kerjanya untuk mencari dan menemukan secara aktif kasus campak.
b)      Pencatatan dan pelaporan
Data campak dilaporkan ke dinas kesehatan provinsi untuk mendapatkan dukungan teknis, logistik dan pendanaan, disamping untuk tukar menukar informasi epidemiologi antar kabupaten/kota dan propinsi.
c)      Pengiriman spesimen
Spesimen serum dari rumah sakit, dan dari puskesmas dikirimkan ke propinsi atau ke Laboratorium Campak Nasional (LCN) seminggu sekali atau 2 kali dalam seminggu (selasa/kamis). Sebelum spesimen dikirim ke LCN, spesimen disimpan di dalam lemari es, bukan dalam freezer.
d)     Umpan balik
·         Sasaran      : puskesmas dan rumah sakit
·         Frekuensi   : setiap bulan
·         Caranya     : tertulis, disampaikan pada saat pertemuan, menggunakan SMS atau  telepon (insidentil)
·         Isi              :
-          Absensi kelengkapan dan ketepatan laporan C1 dan W2
-          Rekap data campak per puskesmas berdasarkan sumber laporan rumah sakit dan puskesmas
-          Rekap data PD3I lainnya sesuai permasalahan setempat
-          Analisa sederhana tentang situasi kasus campak



4)      Di propinsi
a)      Pencatatan dan Pelaporan
Propinsi melaporkan data campak ke Unit Surveilans Pusat Cq. Subdit setiap bulan untuk dipergunakan sebagai bahan kajian Technical working group on Immunization (TWG) yang dilaksanakan setiap bulan untuk membantu pengambil keputusan dalam menentukan kebijakan pemberantasan campak.disamping itu data tersebut dikirim ke regional WHO secara bulanan, serta sebagai bahan konsultasi tahunan WHO (SEARO technical Advisary Group Meeting) untuk mendapatkan dukungan teknis dan pendanaan WHO dan donor internasional lainnya.
·       Data Rutin
-       Laporan Integrasi berisikan rekap data dari laporan integrasi kabupaten/kota (form integrasi/K) menggunakan formulir integrasi /P
-       Laporan C1 kasus campak  yang berisikan data kasus yang diambil spesimennya dari kabupaten/kota dipindahkan/direkap ke formulir C1 dan dikirimkan ke pusat (cq. Subdit Surveilans) bersama laporan integrasi setiap bulannya.
·       Kelengkapan dan ketepatan Laporan
-       Rekap kelengkapan laporan W2, laporan C1 dan laporan FP-PD yang bersumber dari formulir kelengkapan dan ketepatan laporan surveilans kabupaten/kota (formulir absensi/K) kedalam formulir kelengkapan dan ketepatan laporan surveilans integrasi provinsi (form absensi/P)
-       Bagi propinsi yang melaksanakan EWARS, kelengkapan laporan mingguan (zero report) puskesmas menggunakan kelengkapan laporan EWARS
-       Hitung kelengkapan dan ketepatan laporan tersebut, kirim ke pusat setiap bulan bersama laporan integrasi propinsi.



-        
·       KLB
-       Pastikan setiap KLB “fully investigated” oleh kabupaten/kota dan puskesmas
-          Fasilitasi pengiriman spesimen ke laboratorium campak nasional, mekanisme pengiriman spesimen sama dengan mekanisme pengiriman spesimen AFP.
-          Pastikan juga setiap KLB telah dilaporkan ke pusat cq Subdit Surveilans setiap bulan sesuai formulir C KLB/P. Laporan ini harus dikirim secara teratur walaupun pada bulan tersebut tidak ada KLB campak.


b)      Umpan balik
·       Sasaran            :  Kabupaten/kota
·       Frekuensi         :  Setiap bulan
·      Caranya           : tertulis, disampaikan pada saat pertemuan, menggunakan SMS atau telepon (insidentil)
·       Isi                    :
-          Absensi kelengkapan dan ketepatan laporan integrasi dan laporan rekap KLB (C KLB/K)
-          Rekap data KLB berdasarkan status imunisasi, golongan umur, masalah dan TL
-          Rekap data PD3I lainnya sesuai format integrasi
-          Analisa sederhana tentang situasi kasus campak

4.    Sistem Kewaspadaan Dini KLB Campak
a.        Definisi Operasional KLB Campak
Adanya 5 atau lebih kasus klinis dalam waktu 4 minggu berturut-turut yang terjadi mengelompok dan dibuktikan adanya hubungan epidemiologi.
KLB campak dinyatakan berhenti apabila tidak ditemukan kasus baru dalam waktu dua kali masa inkubasi atau rata-rata satu bulan setelah kasus berakhir.

b.      Penyelidikan Epidemiologi KLB
Penyelidikan KLB campak bertujuan untuk mengetahui besar masalah KLB dan gambaran epidemiologi KLB berdasarkan waktu kejadian, umur, status imunisasi penderita, wilayah terjangkit maupun faktor resiko terjadinya KLB. Informasi ini akan dapat memberikan arahan kepada program imunisasi dalam rangka penanggulangan atau pemutusan transmisi ecara lebih tepat.
Dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya KLB perlu dilaksanakan kegiatan kewaspadaan dini KLB. Strategi dalam SKD-KLB campak ada dua, yakni :
·         Pemantauan populasi rentan
·         Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) kasus campak mingguan
·         Tindakan terhadap ancaman KLB campak



1)      Pemantauan Populasi Rentan
Prc = Px  -0,85 ( Cix .Px ) -BS -AM
Populasi rentan (susceptible) atau tak terlindungi imunisasi campak dapat dihitung dengan rumus :

Prc       =  Jumlah populasi rentan campak pada tahun(x)
Px        =  Jumlah populasi bayi pada tahun (x)
Ci.x     =  % cakupan imunisasi tahun (x)
BS       =  Jumlah Bayi sakit campak selama periode thn x
AM      =  Jurnlah Bayi meninggal selama periode tahun (x)
Batas nilai populasi rentan adalah = 5%.
Dalam pemantauan populasi rentan dilakukan juga pemantauan terhadap :
·      Status gizi balita
·      Keterjangkaun pelayanan kesehatan (asesibilitas)
·      Kelompok pengungsi

2)        Pemantauan Kasus Campak Melalui PWS-Campak
Apabila ditemukan satu (1) kasus pada desa dengan cakupan tinggi (>90%), rnasih perlu diwaspadai pula mengingat adanya kemungkinan kesalahan rantai dingin vaksin atau karena cakupan imunisasi yang kurang dipercaya.
Menurut WHO, apabila ditemukan satu (1) kasus pada satu wilayah, maka kernungkinan ada 17-20 kasus di lapangan pada jumlah penduduk rentan yang tinggi.

5.        Penyelidikan dan Penanggulangan KLB
Dalam tahap reduksi campak maka setiap KLB campak harus dapat dilakukan penyelidikan epiderniologi baik oleh surveilans puskesmas maupun bersama-sama dengan surveilans dinas kesehatan. lndikasi penyelidikan KLB Campak dilakukan apabila hasil pengamatan SKD KLB/PWS kasus campak ditemukan indikasi adanya peningkatan kasus dan penyelidikan Pra KLB menunjukkan terjadi KLB, atau adanya laporan peningkatan kasus atau kematian campak dari rnasyarakat, media masa, dan laim-lain.
Strategi penanggulangan KLB Campak ada 3, yakni sebagai berikut:
·       Penyelidikan Epidemiologi
·       Penanggulangan
·       Perneriksaan spesimen di laboratorium.

a)      Penyelidikan Epidemiologi KLB campak
KLB campak harus segera diselidiki untuk melakukan diagnose secara dini (early diagnosis), agar penanggulangan dapat segera dilaksanakan.
b)      Penanggulangan KLB campak
Langkah-langkah penanggulangan campak dalam sistem surveilansepidemiologi nasional adalah sebagai berikut (Dirjen P2PL, 2008).Langkah-langkah penanggulangan :
·         Tata laksana kasus
Adalah kegiatan yang meliputi pengobatan penderitayang tidak komplikasi, pemberian vitamin A, pengobatan Komplikasi dipuskesmas (antibiotik ), apabila keadaan penderita cukup berat, segerarujuk ke rumah sakit.
·         Imunisasi
Respon imunisasi pada KLB campak dapat dilakukan seperti berikut, sesuai situasi 
-            Imunisasi selektif, dengan cara meningkatkan cakupan imunisasirutin di desa terjangkit dan sekitarnya, upayakan cakupan 100 %dan melakukan imunisasi campak kepada seluruh anak usia 6 bl
-            5 th yang tidak mempunyai riwayat imunisasi campak yangberkunjung ke puskesmas maupun posyandu hingga 1 bulan darikasus terakhir
-            Pemberian imunisasi campak masal : yaitu memberikan imunisasicampak secara masal kepada seluruh anak pada golongan umur tertentu tanpa melihat status imunisasi anak tersebut. Pelaksanaanimunisasi masal ini harus dilaksanakan sesegera mungkin,sebaiknya pada saat daerah tersebut diperkirakan belum terjadipenularan secara luas. Selanjutnya cakupan imunisasi rutin tetapdipertahankan tinggi dan merata.
·         Penyuluhan
Masyarakat diingatkan akan bahaya penyakit campak danpentingnya imunisasi dan makanan cukup gizi.
-          Segera membawa anaknya ke fasilitas kesehatan bila ada gejalapanas.
-          Mencegah kematian dan komplikasi dengan pemberian vitamin A

c)      Pemeriksaan Laboratorium
Untuk mendukung diagnosa campak pada saat KLB, maka perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium, yaitu dengan mengambil spesimen. darah sebanyak 10-15 penderita baru, dan waktu sakit kasus kurang dari 21 hari, serta beberapa sampel urine kasus campak untuk isolasi virus.

6.      Upaya Memperkuat Surveilans
a)       Memperkuat dukungan politis
Advokasi (advocacy) kepada pimpinan pemerintah daerah, (Bupati, Bapeda, Binsos, dll) dan DPRD, Kepala Dinas dan lintas program serta sektor terkait lainnya untuk mendapatkan dukungan politis dan pendanaan.
b)      Pemasaran Sosial/Komunikasi Informasi dan Edukasi ( K I E )
Kegiatan surveilans dalam upaya pemberantasan campak perlu disebarluaskan kepada Lintas Sektor, lintas program dan media massa.
c)      Kemitraan
Kemitraan terutama dengan intern program pemberantasan penyakit menular serta  sektoral terkait dan LSM.





DATA SURVEILANS

Kejadian Luar Biasa Campak
di Indonesia tahun 2007

Dilaporkan 114 KLB di 21 provinsi dengan total jumlah kasus sebanyak 2.408 penderita. Terdapat pola penurunan kasus di awal Januari, kemudian meningkat pada bulan September dan terus menurun sampai Desember 2007 (Gambar 1).


Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqbYVZFXYgH39zlYBprO2-n9xANryioD6waDbhcoe5o9szaxcrTL3UGFEddsoG71x2wQZ_W85vZWbV7Q-tSAZBfCL9rwAT1rBQbT9EXO2wLhqpQf8NaNrsOvHPCWrNd1qYCT-Zr75XeHo/s1600/gambar+1+KLB+CAMPAK+2007+pngggg.png

Provinsi Gorontalo merupakan provinsi terbanyak mengalami KLB campak dengan 22 KLB, disusul dengan provinsi Sulawesi Tengah 19 KLB. Sedangkan 12 provinsi tidak melaporkan adanya KLB (Gambar 2).
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVL8jseyvLIFoFGg50EVWeoNSTjhdiDhJRKGE2kTVFt96nzl1WBgVXRGg0F2VQTQQmjlH2pqMnVD9tNyv0C_6tfFepFityaAvw00ft2e8JiODTf1u7SoJMVCSismIsN9lbU1mLGhukwqY/s1600/gambar+2+KLB+CAMPAK+2007.png
Total kasus campak terbanyak di provinsi Sulawesi Tengah dengan 411 kasus, disusul Gorontalo dengan 354 kasus. Kematian akibat Campak terjadi di provinsi Gorontalo, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara dengan 2 kasus kematian. Sedangkan Maluku Utara dan Sulawesi Selatan melaporkan 1 kematian akibat campak (tabel 1).

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCp4OYAuPR5K2HaUn5jERslZTX5mkkMJ5MAnwt07eHI7Gdr4uMxJOQ39h3lphdlRIsRPSJdza6nF8rw6gZ0dnGZ_XNb_-IFxfr2dt00UbScCQhK8InjHlcnWegKtTTVb7toHI6MLW4L-A/s1600/gambar+1+KLB+CAMPAK+2007+pngg.png


Penyakit campak lebih banyak pada umur 5-9 tahun (gambar 3, tabel 3).

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjltvIS7ZDto_s5x37Rq4UUfbd_g4h00GruU7e1iIj7nsmOYMSZzUWDmZSNgi7SlJhRqWXYeU1g0T1V4QUNv0k7WlF7pT7NwCVFw1_huzyA75hFrHslim6qfbnRAv4yBY5J13imj7vwIz8/s1600/gambar+3+KLB+CAMPAK+2007+pngggg.png
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgw4M4tO2CvqjKvI2xJ5o6aKyx4jy_bKL1cH5SK2Y-XNU9Rt2lGIZz_eo1bA3pE08T23ZsMcPNtV20dDamskT2WAWSf1vkf6IZ3BrQO_wl1NYpPYSlY3JXxX73DD1UYb-RT6eY8Ahf72Ac/s1600/tabel+3+KLB+CAMPAK+2007+pngg.png

Tingkat kesakitan campak di antara yang telah divaksinasi cukup tinggi yaitu 20% (tabel 3). Hal ini mungkin karena banyak faktor seperti status gizi, faktor usia saat imunisasi, faktor vaksin atau mungkin juga karena adanya mutasi dari virus campak liar yang ada di Indonesia, mengingat di Indonesia telah ditemukan 3
genotipe virus campak yaitu G2, G3 dan D9. (WHO, 2001).


Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmlHqxvAvebJq_3l2ywxqQXwN7130H0r_WdMINiZ8xbhjYfVpexZeeoq5cpA4Tx1B7hwdjp0wsFY8AM0SBGSwsX9jliHNBVcjxsM8f5noEzKMLVeVhUKFhYfZ34dS5Boumtq1IyMqCByw/s1600/tabel+2+KLB+CAMPAK+2007+pngg.png

Pada umur lebih dari 14 tahun sangat sedikit mungkin karena daya tahan tubuhnya lebih tinggi. Kelompok umur kurang dari 1 tahun relatif lebih sedikit menderita campak mungkin karena kekebalan bawaan yang bertahan relatif lama yaitu hingga bayi berumur 9 bulan. (Dit.Jen. PPM-PL Departemen Kesehatan, 2003). Tingkat kematian umur kurang dari 1 tahun lebih tinggi (tabel 2) mungkin karena lebih rentan bila dibandingkan dengan kelompok umur lain.



Jadi Terdapat 114 kasus KLB Campak di 21 provinsi di Indonesia selama tahun 2007, tetapi terlihat pola penurunan kasus KLB campak. Provinsi dengan kasus KLB campak terbanyak adalah Gorontalo dan Sulawesi Tengah. Beberapa provinsi tidak melaporkan KLB campak. Campak lebih banyak pada golongan umur 5-9 tahun. Masih ada kasus campak di kalangan yang telah mendapatkan imunisasi.

BAB III

PENUTUP


A.  Kesimpulan

1.      Penyakit campak atau lebih dikenali sebagai demam campak ialah penyakit berjangkit yang disebarkan oleh virus, khususnya Paramiksovirus dari genus Morbillivirus.
2.      Penyakit campak ini sering menyerang anak-anak dan daerah risiko tinggi campak yaitu daerah yang berpotensi terjadinya KLB campak, adalah daerah dengan cakupan imunisasi rendah (< 80%), lokasi yang padat dan kumuh antara lain pengungsian, daerah rawan gizi, daerah sulit dijangkau atau jauh dari pelayanan kesehatan, dan daerah dimana budaya masyarakatnya tidak menerima imunisasi.
3.      Adapun gejala-gejala penyakit campak adalah sebagai berikut:
-       Hari 1-3  : Panas makin hari makin naik, mata merah dan sakit bila kena cahaya, anak batuk/pilek
-       Hari 3-4 : Panas agak turun, timbul bercak-bercak merah pada kulit dimulai dibelakang telinga menjalar ke muka, Mata bengkak terdapat cairan kuning kental, Seluruh tubuh terlihat bercak-bercak.
-       Hari 4-6 : Bercak berubah menjadi kehitaman dan mulai mengering selanjutnya mengelupas secara berangsur-angsur, akhirnya kulit kembali seperti semula tanpa menimbulkan bekas.
4.      Adapun cara penularan penyakit campak adalah melalui percikan ludah (droplet) dari mulut selama masa prodormal (stadium kataral).
5.      Langkah-langkah pelaksanaan surveilans campak adalah sebagai berikut:
-       Surveilans Rutin
-       Sistem Kewaspadaan Dini KLB Campak
-       Penyelidikan dan Penanggulangan KLB
-       Upaya Memperkuat Surveilans



B.  Saran

Untuk puskesmas :
1.      Petugas Kesehatan dan pemerintah desa beserta tokoh masyarakat terus melakukan pengamatan perkembangan kasus dan memberikan laporan perkembangan secara rutin ke tingkat lebih atas sampai periode KLB berhenti.
2.      Petugas imunisasi puskesmas harus melakukan sweping imunisasi campak tiap bulannya agar semua anak mendapatkan kekebalan terhadap virus campak.
3.      Bagi masyarakat diharapkan selalu membawa anaknya ke Posyandu untuk mendapatkan imunisasi campak.
4.      Dan meningkatkan perilaku hidup bersih serta menjaga kebersihan lingkungan rumahnya masing-masing
Untuk Program Imunisasi Kabupaten :
1.      Meningkatkan pembinaan ke puskesmas
2.      Melakukan koordinasi lintas program terkait Khususnya program promkes dan Kesga
3.      Koordinasi lintas sector terutama mengenai penggalakan posyandu
4.      Meningkatkan PWS dan meningkatkan cakupan imunisasi tiap desa


DAFTAR PUSTAKA



Etty Sugiasih. http://lib.unnes.ac.id/18279/1/6450407019.pdf. diakses 09 juni 2016

Subangkit Badan Penelitan dan Pengembangan Kesehatan RI, Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi Departemen Kesehatan Republik Indonesia.