BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Upaya bangsa
Indonesia untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal diperlukan suatu
tatanan. Hal ini sebagai perwujudan kesejahteraan umum dalam rangka mencapai
tujuan di bidang kesehatan. Salah satu upaya mencapai tujuan kesehatan nasional
adalah pengendalian penyakit campak melalui surveilans campak.
Sidang World Health Assembly (WHA)
pada bulan Mei 2010 menyepakati target pencapaian pengendalian penyakit campak
pada tahun 2015 yaitu :
-
Mencapai cakupan imunisasi campak
dosis pertama > 90% secara nasional dan minimal 80% di seluruh
kabupaten/kota.
-
Menurunkan angka insiden campak
menjadi <5/1.000.000 setiap tahun dan mempertahankannya.
-
Menurunkan
angka kematian campak minimal 95% dari perkiraan angka kematian 2000.
Hasil
dari paparan World Health Organization (WHO) menyebutkan, pada periode Januari
hingga Juli 2011, tercatat ada 26 ribu kasus campak di 40 negara di benua
Eropa. Jumlah kasus yang berhasil terekam WHO itu, menunjukkan kasus campak di
benua Eropa meningkat 276 % dibandingkan periode yang sama pada 2007 lalu.
Jumlah
kasus campak tahun 2009 di Indonesia sebanyak 18.055 kasus (IR (Incident Rate):
0,77 per 10.000 penduduk). Sedangkan pada tahun 2010 sebanyak 17.139 kasus (IR:
0,73 per 10.000 penduduk) dengan target IR di Indonesia adalah 0 per 10.000
penduduk (Depkes RI: 2010).
Indonesia
pada saat ini berada pada tahap reduksi dengan pengendalian dan pencegahan
kejadian luar biasa (KLB). Tingkat penularan infeksi campak sangat tinggi
sehingga sering menimbulkan KLB. Jumlah kasus campak menurun pada semua
golongan umur di Indonesia terutama anak-anak di bawah lima tahun pada tahun
1999 s/d 2001, namun setelah itu insidence rate tetap, dengan kejadian pada
kelompok umur < 1 tahun dan 1-4 tahun selalu tinggi daripada kelompok umur
lainnya. Pada umumnya- KLB yang terjadi di beberapa provinsi menunjukkan kasus
tertinggi selalu pada golongan umur 1-4 tahun (Depkes, 2006).
Hingga
saat ini Indonesia belum bisa terlepas dari penyakit campak, data terakhir
menunjukkan penyakit campak sebanyak 11.704 kasus pada tahun 2011 (Dirjen P2PL,
2012). Campak merupakan suatu infeksi penyakit akut yang menular ,disebabkan
oleh paramixovirus dengan genus morbilivirus yang pada umumnya menyerang
anak-anak (Julia andriani, 2009). Penyakit campak termasuk penyakit yang sering
menyerang anak-anak, karena itu penyakit akibat virus ini sering disepelekan
dan masyarakat kita masih berpikiran kalau anak kena campak adalah hal yang
biasa dan wajar (Soedjatmiko, 2011).
Salah satu program pemerintah untuk
memberantas ataupun menurunkan angka kasus campak yaitu melalui kegiatan
surveilans epidemiologi yang bertujuan untuk memantau kemajuan kegiatan
pemberantasan campak. Sehingga kasus campak yang ada di masyarakat dapat
ditekan.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan
masalah di dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
Apa pengertian penyakit
campak ?
2.
Bagaimanakah
epidemiologi penyakit campak ?
3.
Apa saja gejala
penyakit campak ?
4.
Bagaimana cara
penularan penyakit campak ?
5.
Bagaimana
langkah-langkah surveilans penyakit campak ?
C. Tujuan Penulisan
Adapun yang
menjadi tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui
pengertian dari penyakit campak.
2. Mengetahui
epidemiologi penyakit campak.
3. Dapat
memahami gejala-gejala penyakit campak.
4. Mengetahui
cara penularan penyakit campak.
5. Mengetahui
langkah-langkah surveilans penyakit campak
BAB II
PEMBAHASAN
A. Penyakit Campak
1.
Pengertian
Penyakit Campak
Penyakit campak dikenal juga sebagai
Morbili atau Measles, merupakan penyakit yang sangat menular (infeksius) yang
disebabkan oleh virus. Sembilan puluh persen anak yang tidak kebal akan
terserang penyakit campak. Manusia diperkirakan satu-satunya reservoir,
walaupun monyet dapat terinfeksi tetapi tidak berperan dalam penyebaran.
Campak
merupakan penyakit serius yang mudah ditularkan melalui udara. Tingkat
penularan infeksi campak sangat tinggi sehingga sering menimbulkan KLB
(Kejadian Luar Biasa). Penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian imunisasi
campak.
Penyakit
ini biasanya akan sembuh dengan sendirinya dan diketahui bahwa seseorang hanya
akan terkena penyakit ini sekali seumur hidup. Sesuai dengan sifat alami
penyakit campak yang monotipik, yaitu hanya terdiri dari satu tipe saja,
setelah pemberian imunisasi campak seharusnya seorang anak akan kebal seumur
hidup. Namun ada beberapa kasus mengenai anak yang dinyatakan terkena penyakit
campak oleh dokter, padahal orang tuanya telah melakukan imunisasi campak pada
anak tersebut.
2.
Epidemiologi
Penyakit Campak
Campak adalah
penyakit menular yang dapat
menginfeksi anak-anak pada usia dibawah 15 bulan, anak usia sekolah atau
remaja. Penyebaran penyakit campak berdasarkan umur berbeda dari satu daerah
dengan daerah lain, tergantung dari kepadatan penduduknya, terisolasi atau
tidaknya daerah tersebut. Pada daerah urban yang berpenduduk padat, transmisi
virus campak sangat tinggi.
Berdasarkan tempat
penyebarannya, penyakit campak
berbeda, dimana daerah perkotaan siklus epidemi campak terjadi
setiap 2-4 tahun sekali,
sedangkan di daerah pedesaan penyakit campak jarang terjadi, tetapi bila sewaktu-waktu terdapat penyakit campak
maka serangan dapat bersifat wabah
dan menyerang kelompok umur yang rentan. Berdasarkan profil
kesehatan tahun 2008 terdapat jumlah kasus
campak yaitu 3424 kasus di Jawa barat, di Banten 1552 kasus, di Jawa
tengah 1001 kasus.
3.
Daerah
Risiko Tinggi
Daerah risiko tinggi campak yaitu daerah
yang berpotensi terjadinya KLB campak, dilihat dari (Dirjen P2PL, 2008):
-
Daerah dengan cakupan
imunisasi rendah (< 80%)
-
Lokasi yang padat dan
kumuh antara lain pengungsian
-
Daerah rawan gizi
-
Daerah sulit dijangkau
atau jauh dari pelayanan kesehatan
-
Daerah dimana budaya
masyarakatnya tidak menerima imunisasi
4.
Etiologi
Campak
Penyebab campak adalah
Paramyxoviridae (RNA), jenis Morbillivirusyang mudah mati karena panas dan
cahaya. Hanya satu tipe antigen yangdiketahui. Selama masa prodromal dan selama
waktu singkat sesudah ruamtampak, virus ditemukan dalam sekresi nasofaring,
darah dan urin. Virusdapat tetap aktif selama sekurang-kurangnya 34 jam dalam suhu
kamar.Virus campak dapat diisolasi dalam biakan embrio manusia atau
jaringanginjal kera rhesus.
5.
Cara dan Masa Penularan
1. Penularan dari orang ke orang melalui percikan ludah dan
transmisimelalui udara terutama melalui batuk, bersin atau sekresi hidung.
2. Masa penularan 4 hari sebelum rash sampai 4 hari setelah
timbul rash,puncak penularan pada saat gejala awal (fase prodromal), yaitu pada
1-3hari pertama sakit.
6.
Masa Inkubasi
Masa Inkubasi antara 7 – 18 hari. Rata-rata 10 hari.
Secara
garis besar penyakit campak bisa dibagi menjadi 3 fase, yakni sebagi berikut :
-
Fase pertama disebut
masa inkubasi yang berlangsung sekitar 10-12 hari. Pada fase ini, anak sudah
mulai terkena infeksi tapi pada dirinya belum tampak gejala apa pun.
Bercak-bercak merah yang merupakan ciri khas campak belum keluar.
-
Fase kedua (fase
prodormal). Pada fase ini barulah timbul gejala yang mirip penyakit flu,
seperti batuk, pilek, dan demam. Mata tampak kemerah-merahan dan berair. Bila
melihat sesuatu, mata akan silau (photo phobia). Di sebelah dalam mulut muncul
bintik-bintik putih yang akan bertahan 3-4 hari. Terkadang anak juga mengalami
diare. Satu-dua hari kemudian timbul demam tinggi yang turun naik, berkisar
38-40,5 derajat Celcius.
-
Fase ketiga ditandai
dengan keluarnya bercak merah seiring dengan demam tinggi yang terjadi. Namun,
bercak tak langsung muncul di seluruh tubuh, melainkan bertahap dan merambat.
Bermula dari belakang kuping, leher, dada, muka, tangan dan kaki. Warnanya pun
khas; merah dengan ukuran yang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu
kecil. Bercak-bercak merah ini dalam bahasa kedokterannya disebut
makulopapuler.
Biasanya bercak
memenuhi seluruh tubuh dalam waktu sekitar satu minggu. Namun, ini pun
tergantung padadaya tahan tubuh masing-masing anak. Bila daya tahan tubuhnya
baik maka bercak merahnya tak terlalu menyebar dan tak terlalu penuh. Umumnya
jika bercak merahnya sudah keluar, demam akan turun dengan sendirinya. Bercak
merah pun makin lama menjadi kehitaman dan bersisik (hiperpigmentasi), lalu rontok
atau sembuh dengan sendirinya. Periode ini merupakan masa penyembuhan yang
butuh waktu sampai 2 minggu.
7.
Gejala
Penyakit Campak
a.
Panas badan biasanya ≥ 38oC
selama 3 hari atau lebih, disertai salah satu atau gejala batuk, pilek, mata
merah atau mata berair
b.
Khas (pathognomonis) ditemukan
Koplik’s spot atau bercak putih keabuan dengan dasar merah di pipi bagian dalam
(mucosa bucal)
c.
Bercak kemerahan/rash yang dimulai dari
belakang telinga pada tubuh berbentuk makulo popular selama 3 hari atau lebih,
keseluruhan tubuh.
d.
Bercak kemerahan makulo papular
setelah 1 minggu sampai 1 bulan berubah menjadi kehitaman (hiperpigmentasi)
disertai kulit bersisik. Untuk kasus yang telah menunjukkan hiperpigmentasi
(kehitaman) perlu dilakukan anamnesis dengan teliti, dan apabila pada masa akut
(permulaan sakit) terdapat gejala-gejala tersebut di atas maka kasus tersebut
termasuk kasus campak klinis.
8.
Cara
Penularan Penyakit Campak
Sumber penularan adalah manusia sebagai penderita. Penularan dari orang ke
orang melalui melalui percikan ludah dan transmisi melalui udara terutama
melalui batuk, bersin atau sekresi hidung. Masa penularan 4 hari sebelum timbul
rash, puncak penularan pada saat gejala awal (fase prodromal), yaitu pada 1-3
hari pertama sakit.
9.
Komplikasi
-
Sebagian besar penderita campak akan
sembuh, komplikasi sering terjadi pada anak usia < 5 tahun dan penderita
dewasa usia > 20 tahun. Kasus campak pada penderita malnutrisi dan
defisiensi Vitamin A serta immune deficiency (HIV), komplikasi campak dapat menjadi
lebih berat atau fatal. Komplikasi yang sering terjadi seperti diare,
bronchopneumonia, malnutrisi, otitis media, kebutaan,
enchephalitis, measles encephalitis hanya 1/1000 penderita, subacute sclerosing
panencephalitis (SSPE), hanya 1/100.000 penderita campak, ulkus mucosa mulut.
10.
Penyebab
kematian
Kematian
penderita campak umumnya disebabkan karena komplikasinya, seperti :
Bronchopneumonia, Diare berat dan gizi buruk serta penanganan yang terlambat.
11.
Diagnosis
Banding
a.
Rubella (campak Jerman), terdapat pembesaran
kelenjar getah bening di belakang telinga.
b.
DBD, bisa terjadi mimisan, torquet
test (Rumple Leede) positif, perdarahan diikuti syok, laboratorium menunjukkan
trombosit <100.000/ml dan serologis positif IgM DHF (spesimen akut dan
spesimen penyembuhan)
c.
Cacar air (varicella), ditemukan
vesikula atau gelembung berisi cairan
d.
Alergi obat, kemerahan di tubuh setelah minum
obat/disuntik, disertai gatal-gatal
e. Milaria atau
keringat buntet : Gatal-gatal, bintik kemerahan.
12.
Patogenesis
Campak
adalah penyakit infeksi sistemik yang dimulai infeksi pada bagian epitel
saluran pernafasan di nasopharing. Virus campak dikeluarkan dari dari
nasopharing mulai dari masa prodromal sampai 3-4 hari setelah rash.
13.
Imunitas
Infeksi alami karena penyakit campak cenderung menimbulkan
antibodi lebih baik dibandingkan antibodi yang terbentuk karena vaksinasi
campak. Setelah terjadi virus, maka terjadi respon seluler segera yang kemudian
diikuti oleh respon imunitas pada saat timbulnya rash. Bila pada seorang anak
tidak terdeteksi adanya titer antibodi campak, maka anak tersebut kemungkinan
masih rentan. Penyembuhan terhadap penyakit campak tergantung kepada kemampuan
respon dari T-cell yang adekuat.
Dengan adanya maternalantibody, biasanya anak-anak
akan terlindung dari penyakit campak untuk beberapa bulan, biasanya antibody
akan sangat berkurang setelah anak berumur 6-9 bulan, yang menyebabkan anak
menjadi rentan terhadap penyakit campak. Suatu infeksi dengan kadar virus yang
tinggi kadang kala dapat melampaui tingkat perlindungan dari maternal antibody
sehingga anak dapat terserang penyakit campak pada umur 3-4 bulan.
14.
Pengobatan
Pengobatan terhadap campak sesuai
dengan gejala yang muncul. Penderita tanpa komplikasi cukup diberikan
antipiretik dan pemberian vitamin A dosis tinggi sesuai usia. Jika ada
komplikasi anjurkan penderita dirawat di Puskesmas atau di Rumah Sakit,
Pengobatan komplikasi di sarana pelayanan kesehatan dengan pemberian antibiotik
tergantung berat ringannya komplikasi, bila keadaan penderita cukup berat segera
rujuk ke rumah sakit. Kasus yang terkena penyakit campak, diisolasi, untuk
memutuskan rantai penularan pada orang lain.
Pemberian Vitamin
A:
Diberikan sebanyak 2 kapsul (kapsul pertama diberikan saat penderita
ditemukan, kapsul kedua diberikan keesokan harinya, dosis sesuai umur
penderita). Pemberian Vitamin A diutamakan untuk penderita campak, jika
persediaan vitamin A mencukupi, sebaiknya juga diberikan pada yang tidak
terkena kasus campak.
-
Umur 0 - 6 bulan,
bagi bayi yang tidak mendapatkan ASI , diberikan vitamin A 1 kapsul 50.000 IU
pada saat penderita ditemukan, dan kapsul ke dua diberikan keesokan harinya.
-
Umur 6 – 11 bulan,
pada saat penderita ditemukan, diberikan vitamin A sebanyak 100.000 IU, dan
kapsul kedua diberikan pada hari kedua.
-
Umur 12 – 59 bulan,
saat penderita ditemukan, diberikan vitamin A sebanyak 1 kapsul 200.000 IU, dan
kapsul kedua diberikan pada hari kedua.
B. Surveilans Penyakit Campak
Surveilans
kesehatan masyarakat adalah pengumpulan, analisis, dan analisis data secara terus-menerus
dan sistematis yang kemudian didiseminasikan (disebarluaskan) kepada
pihak-pihak yang bertanggungjawab dalam pencegahan penyakit dan masalah
kesehatan lainnya (DCP2, 2008). Surveilans memantau terus-menerus kejadian dan
kecenderungan penyakit, mendeteksi dan memprediksi outbreak pada populasi,
mengamati faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit, seperti
perubahan-perubahan biologis pada agen, vektor, dan reservoir. Selanjutnya
surveilans menghubungkan informasi tersebut kepada pembuat keputusan agar dapat
dilakukan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian penyakit (Last, 2001).
Peranan
surveilans dalam program reduksi campak sangat penting, surveilans dapat
menilai perkembangan program pemberantasan campak serta dapat membantu menentukan
strategi pemberantasannya di setiap daerah, terutama untuk perencanaan,
pengendalian dan evaluasi program pemberantasan campak di Indonesia.
WHO mencanangkan
beberapa tahapan dalam upaya pemberantasan campak, dengan tekanan strategi yang
berbeda-beda pada setiap tahap yaitu :
a. Tahap
Reduksi
Tahap ini dibagi dalam
2 tahap :
1) Tahap
pengendalian campak
Pada tahap ini ditandai
dengan upaya peningkatan cakupan imunisasi campak rutin dan upaya imunisasi
tambahan di daerah dengan morbiditas campak yang tinggi. Daerah -daerah ini
masih merupakan daerah endemis campak, tetapi telah terjadi penurunan insiden
dan kematian, dengan pola epidemiologi kasus campak menunjukkan 2 puncak setiap
tahun.
2) Tahap
Pencegahan KLB
Cakupan imunisasi dapat
dipertahankan tinggi >80% dan merata, terjadi penurunan tajam kasus dan
kematian, insiden campak telah bergeser kepada umur yang lebih tua, dengan
interval KLB antara 4-8 tahun.
b. Tahap
Eliminasi
Cakupan imunisasi
sangat tinggi >95% dan daerah -daerah
dengan cakupan imunisasi rendah sudah sangat kecil jumlahnya. Kasus campak
sudah jarang dan KLB hampir tidak pernah terjadi. Anak-anak yang dicurigai
rentan (tidak terlindung) harus diselidiki dan diberikan imuniasi campak.
c. Tahap Eradikasi
Cakupan
imunisasi sangat tinggi dan merata, serta kasus campak sudah tidak ditemukan.
Transmisi virus campak sudah dapat diputuskan, dan negara-negara di dunia sudah
memasuki tahap eliminasi.
Pada Technical
Consultative Groups (TCG) Meeting, di Dakka, Bangladesh tahun 1999, menetapkan
bahwa reduksi campak di Indonesia berada pada tahap reduksi dengan pencegahan
Kejadian Luar Biasa (KLB).
1.
Tujuan
Surveilans Campak
Adapun tujuan
surveilans campak adalah sebagai berikut :
a. Mengetahui
perubahan epidemiologi campak
b. Mengidentifikasi
populasi risiko tinggi
c. Memprediksi
dan mencegah terjadinya KLB campak
d. Penyelidikan
epidemiologi setiap KLB campak.
2.
Strategi
Surveilans Campak
Strategi
surveilans campak meliputi :
1) Surveilans
Rutin
Surveilans
rutin merupakan Pengamatan Epidemiologi kasus campak yang telah dilakukan
secara rutin selama ini berdasarkan sumber data rutin yang telah ada serta
sumber data lain yang mungkin dapat dijangkau pengumpulannnya.
2) SKD
dan Respon KLB Campak
Pelaksanaan
SKD dan Respon KLB campak dilakukan setelah diketahui atau adanya laporan 1 kasus
pada suatu daerah serta pada daerah yang memiliki polulas rentan lebih 5%.
3) Penyelidikan
dan Penanggulangan Setiap KLB Campak
Setiap
KLB harus diselidiki dan dilakukan penanggulangan secepatnya yang meliputi
pengobatan simtomatis pada kasus, pengobatan dengan antibiotika bila terjadi
komplikasi, pemberian vitamin A dosis tinggi, perbaikan gizi dan meningkatkan
cakupan imunisasi campak/ring vaksinasi (program cepat,sweeping) pada desa-desa
risiko tinggi.
4) Pemeriksaan
Laboratorium pada Kondisi Tertentu
Pada
tahap reduksi campak dengan pencegahan KLB : pemeriksaan laboratorium dilakukan
terhadap 10 -15 kasus baru pada setiap
KLB.
Pada
tahap eliminasi/eradikasi, setiap kasus campak dilakukan pemeriksaan laboratorium.
5) Studi
Epidemiologi
Melakukan survei cepat,
penelitian operasional atau operational research (OR) sebagai tindak lanjut
hasil analisis surveilans untuk melengkapi data/informasi surveilans yang
diperlukan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam perbaikan program (corrective action).
3.
Pelaksanan
Surveilans Campak
Kegiatan surveilans
campak dalam program eradikasi campak adalah sebagai berikut:
a. Surveilans
Rutin
Surveilans rutin
dilaksanakan terutama oleh surveilans puskesmas serta surveilans
kabupaten/kota.
Kegiatan surveilans
rutin yang digunakan dalam sistem surveilans epidemiologi nasional adalah
sebagai berikut (Dirjen P2PL, 2008) :
1) Tingkat
Puskesmas :
a)
Pengumpulan data
Sumber data
surveilans rutin di puskesmas adalah :
-
Puskesmas dan puskesmas pembantu
Semua kasus yang datang ke puskesmas maupun puskesmas
pembantu dinyatakan pada keluarga penderita apakah ada kasus yang sama
disekitar tempat tinggal atau teman sekolah penderita. Apabila keuarga
penderita menyatakan ada kasus lain, maka petugas kesehatan harus melakukan
pengecekan ke lapangan untuk mencari kasus tambahan lainnya. Jika jumlah kasus
memenuhi kriteria KLB, maka dilakukan penyelidikan Epidemiologi KLB campak.
-
Praktek dokter, bidan, perawat, dan
pelayanan kesehatan swasta lainnya
Pelayanan kesehatan swsta trmasuk dokter, bidan
perawat praktek swasta diminta mencatat ke formulir C1 semua kasus tersangka
campak dan melaporkan ke puskesmas di wilayah kerjanya setiap bulan. Laporan
dapat juga dilakukan secara aktif yaitu petugas puskesmas mengambil secara
aktif setiap minggu atau minimal setiap bulan, terutama di daerah perkotaan.
Pelayanan kesehatan swasta diprioritaskan pada pelayanan yang anyak pasien.
-
Masyarakat/posyandu maupun petugas
desa siaga
Penderita campak pada umumnya jarang mencari pengobatan
ke pelayanan kesehatan, sehingga tidak tercatat dalam sistem pelaporan yang
sudah ada. Oleh sebab itu perlu peran aktif kader/petugas desa siaga untuk
mendorong masyarakat melaporkan ke petugas kesehatan terdekat apabila menemukan
adanya kasus campak di daerahnya. Kasus campak yang tidak datang ke pelayanan
kesehatan terdekat dapat dilaporkan melalui kader/petugas desa siaga atau
petugas kesehatan terdekat. Kasus campak yang dilaporkan oleh kader/petugas
desa siaga harus dikonfirmasi oleh petugas puskesmas sebelum dicatat kedalam
form C-1. Apabila ditemukan kasus tambahan dicatat dalam C-1, jika jumlah kasus
memenui kriteria KLB, maka dilakukan penyelidikan epidemiologi KLB.
b)
Pencatatan dan Pelaporan
-
Petugas surveilans puskesmas harus
memastikan bahwa setiap kasus campak yang ditemukan, baik yang berasal dari
dalam maupun luar wilayah kerja, telah dicatat dalam form C1 dan dilaporkan ke
Dinas Kesehatan Kabupaten/kota setiap bulan.
-
Setiap minggu direkap dalam W2/PWS
KLB dan dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/kota sebagai alat SKD KLB.
-
Setiap kasus campak yang datang ke
puskesmas diberi nomor Epid oleh petugas puskesmas
c)
Pengambilan spesimen
·
Puskesmas :
-
Kasus campak yang datang di
puskesmas diambil sampel darah untuk mendapatkan serum
-
Serum dikirim langsung atau setiap
hari senin atau kamis ke Kabupaten/Propinsi
-
Bila tidak dikirim langsung,
spesimen disimpan di lemari es (bukan di freezer)
·
Praktek swasta :
Rujuk ke laboratorium rumah sakit
atau laboratorium puskesmas untuk pengambilan
spesimen serum.
d)
Umpan balik
·
Sasaran : Kepala Puskesmas dan seluruh pengelola program , petugas
pustu.
·
Frekuensi : setiap bulan
·
Caranya : pertemuan MINILOK bulanan puskesmas
·
Isi :
- PWS
Imunisasi
- Maping
populasi rentan (area map)
- Spot map
kasus campak, KLB maupun rutin
- Grafik
kecenderungan kasus campak
- Status
imunisasi kasus dan distribusi kasus menurut umur
- Permasalahan
imunisasi dan surveilans secara umum (logistik, ketenagaan, dll)
2) Tingkat
Rumah Sakit :
a)
Penemuan kasus
Setiap hari kontak person di bangsal dan poliklinik
anak memeriksa adanya kasus maupun kematian campak.
b)
Pencatatan dan pelaporan
Setiap kasus atau kematian campak dicatat dalam form
C1 (individual). Apabila ada penderita campak, maka kontak person di poliklinik
anak langsung mengisi formulir C1. Formulir C1 yang sudah terisi tersebut akan
diambil oleh petugas surveilans aktif kabupaten/kota setiap minggu pada saat
melaksanakan surveilans aktif AFP, campak dan TN.
c)
Kasus campak yang dilaporkan dari
rumah sakit harus diberi nomor Epid sesuai dengan alamat puskesmas dimana
penderita berdomisili.
d)
Pengambilan spesimen
-
Petugas rumah sakit mengambil
spesimen darah, memisahkan serumnya dan memberikan label pada tabung spesimen.
Pada label dicantumkan nama, umur, dan tanggal ambil.
-
Simpan spesimen serum ke dalam
refrigator, setiap senin dan kamis diambil oleh petugas kabupaten/kota dan
selanjutnya dikirim ke LCN langsung atau melalui propinsi.
-
Mencatat data kasus ke dalam buku
khusus sebagai dokumen di laboratoriuj rumah sakit yang dapat dimanfaatkan
sebagai kontrol data.
3)
Di Kabupaten/Kota
a) Penemuan
kasus
Setiap minggu petugas dinas kesehatan kabupaten/kota
mengunjungi rumah sakit di wilayah kerjanya untuk mencari dan menemukan secara
aktif kasus campak.
b) Pencatatan
dan pelaporan
Data campak dilaporkan ke dinas kesehatan provinsi
untuk mendapatkan dukungan teknis, logistik dan pendanaan, disamping untuk
tukar menukar informasi epidemiologi antar kabupaten/kota dan propinsi.
c) Pengiriman
spesimen
Spesimen serum dari rumah sakit, dan dari puskesmas
dikirimkan ke propinsi atau ke Laboratorium Campak Nasional (LCN) seminggu
sekali atau 2 kali dalam seminggu (selasa/kamis). Sebelum spesimen dikirim ke
LCN, spesimen disimpan di dalam lemari es, bukan dalam freezer.
d) Umpan balik
·
Sasaran : puskesmas dan rumah sakit
·
Frekuensi : setiap bulan
·
Caranya : tertulis, disampaikan pada saat pertemuan, menggunakan SMS
atau telepon (insidentil)
·
Isi :
-
Absensi kelengkapan dan ketepatan
laporan C1 dan W2
-
Rekap data campak per puskesmas
berdasarkan sumber laporan rumah sakit dan puskesmas
-
Rekap data PD3I lainnya sesuai
permasalahan setempat
-
Analisa sederhana tentang situasi
kasus campak
4)
Di propinsi
a)
Pencatatan dan Pelaporan
Propinsi melaporkan data campak ke Unit Surveilans
Pusat Cq. Subdit setiap bulan untuk dipergunakan sebagai bahan kajian Technical
working group on Immunization (TWG) yang dilaksanakan setiap bulan untuk
membantu pengambil keputusan dalam menentukan kebijakan pemberantasan
campak.disamping itu data tersebut dikirim ke regional WHO secara bulanan,
serta sebagai bahan konsultasi tahunan WHO (SEARO technical Advisary Group
Meeting) untuk mendapatkan dukungan teknis dan pendanaan WHO dan donor
internasional lainnya.
·
Data Rutin
- Laporan
Integrasi berisikan rekap data dari laporan integrasi kabupaten/kota (form
integrasi/K) menggunakan formulir integrasi /P
-
Laporan C1 kasus campak yang berisikan data kasus yang diambil
spesimennya dari kabupaten/kota dipindahkan/direkap ke formulir C1 dan
dikirimkan ke pusat (cq. Subdit Surveilans) bersama laporan integrasi setiap
bulannya.
·
Kelengkapan dan ketepatan Laporan
-
Rekap kelengkapan laporan W2,
laporan C1 dan laporan FP-PD yang bersumber dari formulir kelengkapan dan
ketepatan laporan surveilans kabupaten/kota (formulir absensi/K) kedalam
formulir kelengkapan dan ketepatan laporan surveilans integrasi provinsi (form
absensi/P)
-
Bagi propinsi yang melaksanakan
EWARS, kelengkapan laporan mingguan (zero report) puskesmas menggunakan
kelengkapan laporan EWARS
-
Hitung kelengkapan dan ketepatan
laporan tersebut, kirim ke pusat setiap bulan bersama laporan integrasi
propinsi.
-
·
KLB
- Pastikan
setiap KLB “fully investigated” oleh kabupaten/kota dan puskesmas
-
Fasilitasi pengiriman spesimen ke
laboratorium campak nasional, mekanisme pengiriman spesimen sama dengan
mekanisme pengiriman spesimen AFP.
-
Pastikan juga setiap KLB telah
dilaporkan ke pusat cq Subdit Surveilans setiap bulan sesuai formulir C KLB/P.
Laporan ini harus dikirim secara teratur walaupun pada bulan tersebut tidak ada
KLB campak.
b)
Umpan balik
·
Sasaran : Kabupaten/kota
·
Frekuensi : Setiap bulan
·
Caranya : tertulis, disampaikan pada saat pertemuan, menggunakan
SMS atau telepon (insidentil)
·
Isi :
-
Absensi kelengkapan dan ketepatan
laporan integrasi dan laporan rekap KLB (C KLB/K)
-
Rekap data KLB berdasarkan status
imunisasi, golongan umur, masalah dan TL
-
Rekap data PD3I lainnya sesuai
format integrasi
-
Analisa sederhana tentang situasi
kasus campak
4.
Sistem
Kewaspadaan Dini KLB Campak
a.
Definisi Operasional KLB Campak
Adanya 5 atau lebih kasus klinis dalam waktu 4 minggu berturut-turut
yang terjadi mengelompok dan dibuktikan adanya hubungan epidemiologi.
KLB campak dinyatakan berhenti apabila tidak ditemukan
kasus baru dalam waktu dua kali masa inkubasi atau rata-rata satu bulan setelah
kasus berakhir.
b.
Penyelidikan Epidemiologi KLB
Penyelidikan KLB campak bertujuan untuk mengetahui
besar masalah KLB dan gambaran epidemiologi KLB berdasarkan waktu kejadian,
umur, status imunisasi penderita, wilayah terjangkit maupun faktor resiko
terjadinya KLB. Informasi ini akan dapat memberikan arahan kepada program
imunisasi dalam rangka penanggulangan atau pemutusan transmisi ecara lebih
tepat.
Dalam mengantisipasi
kemungkinan terjadinya KLB perlu dilaksanakan kegiatan kewaspadaan dini KLB.
Strategi dalam SKD-KLB campak ada dua, yakni :
·
Pemantauan populasi
rentan
·
Pemantauan Wilayah
Setempat (PWS) kasus campak mingguan
·
Tindakan terhadap
ancaman KLB campak
1) Pemantauan
Populasi Rentan
Prc = Px -0,85 ( Cix .Px ) -BS -AM
Populasi
rentan (susceptible) atau tak terlindungi imunisasi campak dapat dihitung
dengan rumus :
Prc =
Jumlah populasi rentan campak pada tahun(x)
Px =
Jumlah populasi bayi pada tahun (x)
Ci.x = %
cakupan imunisasi tahun (x)
BS =
Jumlah Bayi sakit campak selama periode thn x
AM =
Jurnlah Bayi meninggal selama periode tahun (x)
Batas nilai populasi
rentan adalah = 5%.
Dalam pemantauan
populasi rentan dilakukan juga pemantauan terhadap :
· Status
gizi balita
· Keterjangkaun
pelayanan kesehatan (asesibilitas)
· Kelompok
pengungsi
2)
Pemantauan Kasus Campak
Melalui PWS-Campak
Apabila ditemukan satu
(1) kasus pada desa dengan cakupan tinggi (>90%), rnasih perlu diwaspadai
pula mengingat adanya kemungkinan kesalahan rantai dingin vaksin atau karena
cakupan imunisasi yang kurang dipercaya.
Menurut WHO, apabila
ditemukan satu (1) kasus pada satu wilayah, maka kernungkinan ada 17-20 kasus
di lapangan pada jumlah penduduk rentan yang tinggi.
5.
Penyelidikan
dan Penanggulangan KLB
Dalam tahap reduksi
campak maka setiap KLB campak harus dapat dilakukan penyelidikan epiderniologi
baik oleh surveilans puskesmas maupun bersama-sama dengan surveilans dinas
kesehatan. lndikasi penyelidikan KLB Campak dilakukan apabila hasil pengamatan
SKD KLB/PWS kasus campak ditemukan indikasi adanya peningkatan kasus dan
penyelidikan Pra KLB menunjukkan terjadi KLB, atau adanya laporan peningkatan
kasus atau kematian campak dari rnasyarakat, media masa, dan laim-lain.
Strategi
penanggulangan KLB Campak ada 3, yakni sebagai berikut:
· Penyelidikan
Epidemiologi
· Penanggulangan
· Perneriksaan
spesimen di laboratorium.
a) Penyelidikan
Epidemiologi KLB campak
KLB campak harus segera
diselidiki untuk melakukan diagnose secara dini (early diagnosis), agar
penanggulangan dapat segera dilaksanakan.
b) Penanggulangan
KLB campak
Langkah-langkah
penanggulangan campak dalam sistem surveilansepidemiologi nasional adalah
sebagai berikut (Dirjen P2PL, 2008).Langkah-langkah penanggulangan :
·
Tata laksana kasus
Adalah kegiatan yang
meliputi pengobatan penderitayang tidak komplikasi, pemberian vitamin A, pengobatan
Komplikasi dipuskesmas (antibiotik ), apabila keadaan penderita cukup berat,
segerarujuk ke rumah sakit.
·
Imunisasi
Respon
imunisasi pada KLB campak dapat dilakukan seperti berikut, sesuai situasi
-
Imunisasi selektif,
dengan cara meningkatkan cakupan imunisasirutin di desa terjangkit dan
sekitarnya, upayakan cakupan 100 %dan melakukan imunisasi campak kepada seluruh
anak usia 6 bl
-
5 th yang tidak
mempunyai riwayat imunisasi campak yangberkunjung ke puskesmas maupun posyandu
hingga 1 bulan darikasus terakhir
-
Pemberian imunisasi
campak masal : yaitu memberikan imunisasicampak secara masal kepada seluruh
anak pada golongan umur tertentu tanpa melihat status imunisasi anak tersebut.
Pelaksanaanimunisasi masal ini harus dilaksanakan sesegera mungkin,sebaiknya
pada saat daerah tersebut diperkirakan belum terjadipenularan secara luas.
Selanjutnya cakupan imunisasi rutin tetapdipertahankan tinggi dan merata.
·
Penyuluhan
Masyarakat diingatkan
akan bahaya penyakit campak danpentingnya imunisasi dan makanan cukup gizi.
-
Segera membawa anaknya
ke fasilitas kesehatan bila ada gejalapanas.
-
Mencegah kematian dan
komplikasi dengan pemberian vitamin A
c) Pemeriksaan
Laboratorium
Untuk mendukung
diagnosa campak pada saat KLB, maka perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium,
yaitu dengan mengambil spesimen. darah sebanyak 10-15 penderita baru, dan waktu
sakit kasus kurang dari 21 hari, serta beberapa sampel urine kasus campak untuk
isolasi virus.
6.
Upaya
Memperkuat Surveilans
a) Memperkuat dukungan politis
Advokasi
(advocacy) kepada pimpinan pemerintah daerah, (Bupati, Bapeda, Binsos, dll) dan
DPRD, Kepala Dinas dan lintas program serta sektor terkait lainnya untuk
mendapatkan dukungan politis dan pendanaan.
b) Pemasaran
Sosial/Komunikasi Informasi dan Edukasi ( K I E )
Kegiatan surveilans
dalam upaya pemberantasan campak perlu disebarluaskan kepada Lintas Sektor,
lintas program dan media massa.
c) Kemitraan
Kemitraan terutama
dengan intern program pemberantasan penyakit menular serta sektoral terkait dan LSM.
DATA SURVEILANS
Kejadian
Luar Biasa Campak
di Indonesia
tahun 2007
Dilaporkan 114
KLB di 21 provinsi dengan total jumlah kasus sebanyak 2.408 penderita. Terdapat
pola penurunan kasus di awal Januari, kemudian meningkat pada bulan September
dan terus menurun sampai Desember 2007 (Gambar 1).
Provinsi
Gorontalo merupakan provinsi terbanyak mengalami KLB campak dengan 22 KLB,
disusul dengan provinsi Sulawesi Tengah 19 KLB. Sedangkan 12 provinsi tidak
melaporkan adanya KLB (Gambar 2).
Total kasus
campak terbanyak di provinsi Sulawesi Tengah dengan 411 kasus, disusul
Gorontalo dengan 354 kasus. Kematian akibat Campak terjadi di provinsi
Gorontalo, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara dengan 2 kasus kematian.
Sedangkan Maluku Utara dan Sulawesi Selatan melaporkan 1 kematian akibat campak
(tabel 1).
Penyakit
campak lebih banyak pada umur 5-9 tahun (gambar 3, tabel 3).
Tingkat
kesakitan campak di antara yang telah divaksinasi cukup tinggi yaitu 20% (tabel
3). Hal ini mungkin karena banyak faktor seperti status gizi, faktor usia saat
imunisasi, faktor vaksin atau mungkin juga karena adanya mutasi dari virus
campak liar yang ada di Indonesia, mengingat di Indonesia telah ditemukan 3
genotipe virus
campak yaitu G2, G3 dan D9. (WHO, 2001).
Pada umur
lebih dari 14 tahun sangat sedikit mungkin karena daya tahan tubuhnya lebih
tinggi. Kelompok umur kurang dari 1 tahun relatif lebih sedikit menderita
campak mungkin karena kekebalan bawaan yang bertahan relatif lama yaitu hingga
bayi berumur 9 bulan. (Dit.Jen. PPM-PL Departemen Kesehatan, 2003). Tingkat
kematian umur kurang dari 1 tahun lebih tinggi (tabel 2) mungkin karena lebih
rentan bila dibandingkan dengan kelompok umur lain.
Jadi Terdapat
114 kasus KLB Campak di 21 provinsi di Indonesia selama tahun 2007, tetapi
terlihat pola penurunan kasus KLB campak. Provinsi dengan kasus KLB campak
terbanyak adalah Gorontalo dan Sulawesi Tengah. Beberapa provinsi tidak
melaporkan KLB campak. Campak lebih banyak pada golongan umur 5-9 tahun. Masih
ada kasus campak di kalangan yang telah mendapatkan imunisasi.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Penyakit
campak atau lebih dikenali sebagai demam campak ialah penyakit berjangkit yang
disebarkan oleh virus, khususnya Paramiksovirus dari genus Morbillivirus.
2. Penyakit
campak ini sering menyerang anak-anak dan daerah risiko tinggi campak yaitu
daerah yang berpotensi terjadinya KLB campak, adalah daerah dengan cakupan
imunisasi rendah (< 80%), lokasi yang padat dan kumuh antara lain
pengungsian, daerah rawan gizi, daerah sulit dijangkau atau jauh dari pelayanan
kesehatan, dan daerah dimana budaya masyarakatnya tidak menerima imunisasi.
3. Adapun
gejala-gejala penyakit campak adalah sebagai berikut:
- Hari
1-3 : Panas makin hari makin naik, mata
merah dan sakit bila kena cahaya, anak batuk/pilek
- Hari
3-4 : Panas agak turun, timbul bercak-bercak merah pada kulit dimulai
dibelakang telinga menjalar ke muka, Mata bengkak terdapat cairan kuning
kental, Seluruh tubuh terlihat bercak-bercak.
- Hari
4-6 : Bercak berubah menjadi kehitaman dan mulai mengering selanjutnya
mengelupas secara berangsur-angsur, akhirnya kulit kembali seperti semula tanpa
menimbulkan bekas.
4. Adapun
cara penularan penyakit campak adalah melalui percikan ludah (droplet) dari
mulut selama masa prodormal (stadium kataral).
5. Langkah-langkah
pelaksanaan surveilans campak adalah sebagai berikut:
- Surveilans
Rutin
- Sistem
Kewaspadaan Dini KLB Campak
- Penyelidikan
dan Penanggulangan KLB
- Upaya
Memperkuat Surveilans
B. Saran
Untuk puskesmas
:
1.
Petugas Kesehatan dan
pemerintah desa beserta tokoh masyarakat terus melakukan pengamatan
perkembangan kasus dan memberikan laporan perkembangan secara rutin ke tingkat
lebih atas sampai periode KLB berhenti.
2.
Petugas imunisasi
puskesmas harus melakukan sweping imunisasi campak tiap bulannya agar semua
anak mendapatkan kekebalan terhadap virus campak.
3.
Bagi masyarakat
diharapkan selalu membawa anaknya ke Posyandu untuk mendapatkan imunisasi
campak.
4.
Dan meningkatkan
perilaku hidup bersih serta menjaga kebersihan lingkungan rumahnya
masing-masing
Untuk Program
Imunisasi Kabupaten :
1. Meningkatkan
pembinaan ke puskesmas
2. Melakukan
koordinasi lintas program terkait Khususnya program promkes dan Kesga
3. Koordinasi
lintas sector terutama mengenai penggalakan posyandu
4. Meningkatkan
PWS dan meningkatkan cakupan imunisasi tiap desa
DAFTAR PUSTAKA
Subangkit Badan Penelitan
dan Pengembangan Kesehatan RI, Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis
dan Farmasi Departemen Kesehatan Republik Indonesia.





